Cerpen Cinta Sedih "Diantara Dua Hati"

Berikut ini adalah sebuah Cerpen yang menurut saya menjadi sebuah inpirasi bagi saya karena dengan sebuah Cerpen ini banyak orang seakan menjadi sebuah tokoh dalam Cerpen Tersebut, Bagaimana dengan isi Cerpen Tersebut silahkan langsung saja untuk membacanya.

Cerpen Cinta Sedih "Diantara Dua Hati"
DI ANTARA DUA HATI
Karya Amanda

 “Aku mencintaimu, Lana. ”
Desir angin berhembus.
“Tapi saya tak dapat. ”
Sunyi.
“Kenapa? ”

Detak jarum jam bikin situasi kamarku makin jadi kesunyiannya. Saya menghela napas berulang-kali. Saya tidak paham apa yang perlu saya kerjakan. Dimas. Serta juga dia… Dia yang sampai kini senantiasa bersamaku.

Pintu kamarku diketuk. Dia datang serta segera memelukku dengan seluruh terasa. Rasa yang sampai kini saya anggap yang terindah dari semua rasa yang sempat saya kecap.
“Kamu mengapa, sayang? ” tanyanya sembari membelai rambut panjangku.
“Aku tak apa-apa, ” jawabku sembari melepas diri dari pelukan dia.
Dia mengajakku keluar malam ini. Namun tak tahu mengapa, ada rasa malas menggelayut. Barangkali ini lantaran Dimas. Barangkali. Tapi… entahlah. Saya selekasnya menepis bayang Dimas serta beranjak ganti baju.

Kami nikmati makan malam dalam diam. Walau dia selalu menggenggam jemariku, saya terasa genggaman itu jadi dingin. Tidak sehangat dahulu. Waktu kali pertama saya mengenalnya.
“Kamu mengapa, sayang? ” tanyanya lembut.
“Aku sedikit capek. Maklum seharian tadi, saya mesti ikuti meeting. Kebetulan di kantor ada tamu dari kantor pusat. ” Saya memanglah ikuti meeting. Namun bukan hanya itu yang membuatku capek. Dimas. Lelaki itu yang telah membuatku capek.
“Kalau demikian, sesudah makan, kita segera pulang, ” kata dia lembut.
Saya mengangguk. “Aku mohon maaf ya. ”
“Tidak apa-apa, cinta. ”

Langit bergelung malam. Rembulan terlihat malu-malu diantara jerat ranting pohon belimbing di halaman belakang. Sesudah mengantarku, dia segera pulang. Meninggalkanku dalam kelam malam. Angin berhembus perlahan-lahan. Menggoyang dedaunan hingga menyebabkan nada kresek-kresek.

Dari dalam kamar, hpku menyalak nyaring. Dengan sedikit malas, saya beranjak ke kamar serta mengangkat hp. Dimas. Nyatanya lelaki itu yang menelponku.
“Selamat malam, Lana, ” sapanya ramah dari ujung sana.
“Malam, Dimas. ”
“Aku mengganggu ya? ”
“Tidak juga. Kebetulan saya tengah enjoy, kok. ”
“Sudah makan, Lana? ”
“Sudah. ”
“Ya, telah, anda cepat istirahat ya. Hingga bersua besok di kantor. Selamat malam, cantik. ”
Cantik. Dia memanggilku cantik. Ah, mengapa hatiku jadi berdesir waktu ia mengatakan itu. Mengapa ada rasa malu menjalar lembut di palung hatiku.

Saya merebahkan diri diatas ranjangku yang nyaman. Memandang langit-langit kamar. Memandang photo dia yang terbingkai rapi diatas meja kecil di dekat ranjang. Dahulu, waktu saya pertama mengenalnya, saya tak sempat rasakan ini. Tidak sama waktu saya memandang Dimas. Ada getar-getar halus yang kelihatannya sempat saya rasakan. Dahulu.
Saya juga tak sempat rasakan malu waktu dia menyebutku cantik. Tak seperti waktu Dimas yang mengatakannya baru saja. Hatiku jadi hangat. Hangat yang saya tak saya tahu mengapa.
Adakah yang salah hatiku?

“Sudah terima saja cinta pak Dimas. ” Demikian komentar Nia, teman dekat karibku waktu saya menceritakan ihwal pengucapan cinta dari Dimas.
“Tapi Nia….. ”
“Sampai kapan anda bakal bertahan dengan dia? ”
Hingga kapan? Iya, hingga kapan. Saya juga tak sempat mempertanyakannya. Hingga kapan saya bakal bertahan dengan dia. Terjerat dalam cinta yg tidak dapat saya lukiskan. Apakah benar sama-sama mencinta?
“Lana, anda itu cantik serta anggun. Dia bukan hanya orang yang pas untukmu. Serta pak Dimas, saya rasa orang yang pas untuk hatimu. ”
Saya meraba dadaku. Apakah benar saya tetap mempunyai hati untuk pak Dimas. Apakah benar hatiku tetap dapat terima cinta dari seseorang lelaki bernama Dimas?
“Di dunia ini, lelaki serta wanita ditakdirkan hidup berbarengan. Pasangan wanita ya lelaki. Bukan…” Nia urung meneruskan kalimatnya. “Aku tahu anda sempat trauma serta sakit hati. Namun bukan hanya seperti ini, jalan yang anda tempuh. ”
Saya cuma diam sembari nikmati coffe latte yang ada di depanku. Sesekali saya mengunyah kentang goreng.
“Pikirkan dengan hati dingin serta tenang, Lana. ”
Saya memandang Nia. “Bagaimana dengan dia? ”

Makan malam berbarengan Dimas benar-benar tidak sama dengan makan malam berbarengan dia. Apa yang dikerjakan Dimas sempat dikerjakan oleh dia. Namun saya terasa perlakuan mereka tidak sama. Waktu dia yang lakukan, saya terasa umum saja. Tidak sama waktu Dimas yang menyeka mulutku yang sedikit belepotan terkena bumbu sate. Hatiku berdesir hangat.
“Kenapa anda tak menjawab cintaku, Lana? ”
Saya memandang mata lelaki yang duduk di depanku. Haruskah saya bercerita padanya? Perihal sakit hatiku. Perihal dia yang senantiasa isi hari-hariku.
“Aku tetap belum dapat. ”
“Apakah ada lelaki lain di hatimu? ”
Saya menggeleng. Tidak mungkin saya menceritakan perihal dia.

Sesudah makan malam, Dimas mengajakku melihat di Plaza Delta. Saya cuma mengangguk, terima ajakan Dimas. Tak tahu mengapa, waktu bersamanya saya terasa nyaman. Rasa nyaman yang tidak sama waktu saya berbarengan dia. Juga waktu Dimas menggenggam jemariku. Saya terasa dadaku senantiasa berdesir lembut.

Saat kami jalan menuju bioskop yang terdapat di lantai lima, saya lihat dia tengah ada di suatu toko yang jual jam tangan. Saya selekasnya menghentikan langkahku. Saya tidak mau Dimas memperoleh persoalan. Saya takut dia mencemoohkai Dimas.
“Dimas, kita melalui tempat lain saja. Dapat tak? ”
“Memang ada apa? ’
Saya selekasnya menarik lengan Dimas pas waktu dia memalingkan kepala ke arah kami serta jalan menjauh dari toko tadi sembari mengharapkan dia tak lihat kami. Saya tidak mau Dimas disakiti oleh dia.
“Memang ada apa, Lana? ”
Saya cuma menggeleng.

Sesudah usai melihat film, Dimas segera mengantarku pulang. Tak tahu mengapa, waktu saya memandang kepergiannya, saya tidak mau dia pergi. Saya mau dia senantiasa ada di sisiku.
Waktu masuk ke dalam rumah, bibik katakan bahwasanya dia barusan pulang dari rumah sesudah menungguku. Tetap menurut bibik, dia tampak seperti menahan emosi waktu menungguku. Dadaku berdegup kencang. Jangan-jangan dia tadi lihat kami, batinku.

Sesudah mandi, saya lihat hpku. Di monitor hp, tercantum sebelas panggilan tak terjawab yang kesemuanya dari dia. Dan lima pesan singkat yang di kirim dia. Dengan sedikit gemetar, saya membaca pesan singkat yang dia kirim.
Nyatanya anda demikian. Isi pesan singkat pertama membuatku terperanjat.
Saya tak menganggap. Isi pesan singkat ke-2 bikin kepalaku sedikit pusing.
Anda pengkhianat. Dadaku berdebar membaca pesan singkat ketiga.
Saya bakal ambillah dia darimu. Lututku segera lemas waktu membaca pesan singkat yang ke empat.
Apapun langkahnya, saya bakal memisahkan dia darimu. Saya segera terduduk memikirkan Dimas. Saya tidak mau dia menyakiti Dimas.

Angin berhembus perlahan-lahan. Desau-desaunya mempermainkan rambutku yang tergerai panjang. Saya tahu, dia tengah tak bercanda. Saya tahu, dia tengah serius. Saya tahu, nyatanya dia tadi lihat kami. Saya tak lagi membiarkan dia menyakiti Dimas. Tak lagi!

Siang ini, saya serta Nia mengambil keputusan tidak untuk keluar waktu jam makan siang. Saya mau makan di kantor saja. Hawa Surabaya yang menyengat membuatku malas apabila mesti terkena macet. Untuk ubahnya, saya serta Nia setuju beli bakso yang melalui di depan kantor.
“Kalian tak pergi makan siang? ” bertanya Dimas sembari duduk di sampingku.
“Tidak. Saya mau beli bakso, ” jawabku sembari menahan dadaku yang berdesir waktu kami tak berniat beradu pandang. Mata itu… bikin jantungku berdegup tak karuan.
“Itu baksonya datang, ” seru Nia.
Lantaran halaman kantor kami penuh dengan mobil, tukang bakso yang kami panggil terpaksa berhenti di seberang jalan. Nia lebih dahulu menyeberang. Waktu Dimas menyeberang, dari terlalu jauh saya lihat suatu mobil yg tidak asing melaju kencang ke arah Dimas. Spontan, saya segera mendorong Dimas ke depan dan…
BRAAKKK!!!
Sayup, saya mendengar teriakan Nia serta Dimas. Pada sadar serta tak, saya lihat tatapan Nia serta Dimas yang benar-benar panik. Dimas juga melaluikkan air mata.

Saya rasakan sakit di sekujur badanku. Namun itu tak seberapa. Lantaran sekurang-kurangnya, saya tetap dapat menyelamatkan lelaki itu. Disini, di dalam hiruk pikuk, saya berbaring menahan perih. Tak tahu hingga kapan, saya bakal ada diantara dua hati yang tidak sama. Dimas. Lelaki yang sudah berikan hatinya untukku. Lelaki yang sudah buka hatiku perihal cinta yang utuh serta sewajarnya. Sedang dia… Dia memanglah sudah berikan hatinya untukku. Walau saya, tahu, ada yang salah dengan cinta kami. Lantaran kami, yaitu sama : keduanya sama terlahir untuk wanita. Tak tahu hingga kapan, saya begini : ada diantara dua hati.

Bagaimana dengan Cerpen diatas, SHare atau LIKE jika Cerpen Tersebut sangat bermanfaat bagi anda.